Perkembangan zaman tampaknya menjadi sebuah tantangan besar yang sulit untuk dipungkiri. Kesesuaian akan maraknya teknologi yang terus berkembang pesat, membuat karakter manusia pun ikut berubah, bahkan di dalam dunia literasi.
Minat baca merupakan salah satu faktor untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Yang mana minat baca ini akan mempengaruhi tingkat produktivitas seseorang. Sehingga semakin meningkatnya tingkat produktivitas maka semakin tinggi pula tingkat kesejahteraan.
Semakin kita memiliki daya minat baca dalam diri kita maka akan semakin kita bisa lebih terampil dalam memahami, mengevaluasi, membaca, dan menyaring setiap informasi yang kita dapat. Di era yang penuh dengan informasi yang bisa didapat dari mana saja, membuat kita harus terampil dalam menyikapinya sehingga tidak terjadi disinformasi.
Sering kita mendengar istilah bahwa "buku merupakan jendela dunia". Hal ini diartikan sebagai buku merupakan sumber informasi sehingga dengan kita membaca buku maka kita akan mengetahui tentang berbagai hal yang ada di dunia ini.
Sayangnya menurut data UNESCO dari 62 negara yang disurvei, Indonesia menempati urutan kedua paling bawah dalam dunia lierasi dan yang sangat memprihatinkan lagi minat baca masyarakat Indonesia hanya sekitar 0,001%. Dapat diartikan bahwa dari 1000 orang Indonesia hanya 1 orang yang rajin membaca. Namun, fakta lain yang juga ditemukan adalah Indonesia merupakan negara yang berada di peringkat kelima terbanyak kepemilikan gawai yang artinya dari 273,5 juta penduduk Indonasia (data tahun 2020) 60 juta penduduk Indonesia (data tahun 2017, berarti pada tahun 2020 akan semakin meningkat) merupakan pengguna gawai. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang didominasi oleh usia produktif (15-64 tahun) yang pastinya mayoritas dari generasi milenial pasti memiliki gawai. Hal ini tidak dapat dipungkiri bahwa gawai ini merupakan salah satu objek yang menarik generasi milenial dibandingkan dengan literasi.
Walaupun gawai tidak hanya memiliki dampat negatif saja tetapi juga mempunyai dampat positif yang baik pula. Namun, hal ini balik lagi bagaimana cara kita menyikapinya. Bila dihubungkan dengan dunia literasi, sudah banyak juga platform-platform digital yang menyediakan layanan literasi yang sangat canggih dan inovatif. Walaupun demikian, minat baca generasi milenial tetap saja kurang.
Jadi sebenarnya, apasih yang membuat kurangnya ketertarikan para generasi milenial ini terhadap minat baca?
1. Lingkungan Sekitar
Lingkungan sekitar sangat berdampak akan minat baca seseorang. Jika atmosfer yang dibawa oleh lingkungan sekitar tidak memberikan energi literasi maka hal ini juga akan memengaruhi seseorang mengenai minat bacanya.
2. Berbagai hal didapatkan tanpa proses
Zaman yang terus berkembang pesat, segala hal menjadi serba instan. Bahkan dalam hal mendapatkan informasi. Orang yang suka membaca, suka akan proses membaca buku dalam mendapatkan sebuah wawasan atau informasi baru. Berbeda dengan orang yang maunya serba cepat dan instan, membaca merupakan hal yang sangat memakan waktu.
3. Game online dan social media
Berbagai macam game online dan social media seperti Instagram, Facebook, Youtube, dan lain-lain sangat digemari oleh anak-anak hingga orang dewasa. Bahkan mereka sampai lupa untuk bersosialisasi sesama mereka karena disibukkan oleh game online dan social media. Apalagi untuk memegang buku, padahal dengan membaca buku juga bisa dapat dilakukan untuk menghilangkan penat ketika sedang stress tanpa takut akan bahaya radiasi yang ditimbulkan oleh gawai
4. Diri sendiri
Orang yang paling punya kendali pada diri kita adalah diri kita sendiri. Kita adalah penentu atas setiap keputusan yang kita ambil. Oleh sebab itu, jika dari dalam diri kita tidak kita tanamkan rasa cinta terhadap buku maka tidak ada minat baca di dalam diri kita. Padahal jika sudah kita tananamkan dalam diri kita sejak kecil bahwa membaca merupakan hal menarik dan menyenangkan maka membaca bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan. Dengan demikian, kita harus memperkuat niat kita untuk menyenangi kegiatan membaca ini.
5. Gadget
Dengan gawai kita dapat melakukan banyak hal salah satunya mencari informasi, wawasan, ilmu baru, dan lain-lain. Namun, sepertinya kita lupa bahwa sebelum gawai memiliki fungsi untuk menggali banyak informasi ada suatu tempat yang bisa kita katakan sebagai pintu menuju dunia luar yaitu "perpustakaan". Banyak generasi milenial yang beranggapa bahwa perpustakaan itu sudah kuno alias ketinggalan jaman sehingga mereka beralih pada gawai untuk mendapatkan informasi.
Walaupun gawai sudah menyita perhatian generasi muda dengan segala informasi yang mudah didapatkan dan perpustakaan yang sepertinya akan temaram dimakan perkembangan zaman. Namun, berbeda dengan UPT. Perpustakaan Unsyiah yang mana perpustakaan ini terus berinovasi dan berkembang mengikuti perkembangan zaman demi memperluas minat baca para generasi muda.
Perpustakaan yang dimiliki oleh Universitas Syiah Kuala atau sekarang disebut USK memiliki berbagai fasilitas yang menunjang kenyamanan serta ketertarikan yang adiktif bagi para penggunanya.
UPT. Perpustakaan Unsyiah yang telah berdiri sejak tahun 1970 hinga sekarang, memiliki berbagai macam buku, journal, skripsi, eBook, dana lain-lain. Tidak hanya itu, fasilitasnya yang lengkap membuat kenyamanan setiap pengunjungnya dan ada banyak kegiatan-kegiatan positif yang diadakan oleh UPT. Perpustakaan Unsyiah. Prestasi-prestasi yang luar biasa juga telah banyak didapatkan oleh UPT. Perpustakaan Unsyiah. Jadi yuk simak semua hal menarik dari Perpustakaan Unsyiah ini.
Layanan Operasional perpustakaan Syiah Kuala ini juga cukup fleksibel sehingga kita dapat dengan muda untuk belajar dan berkunjung ke perpustakaan. Namun, dikarena kondisi Covid-19 yang masih belum usai untuk sementara perpustakaan Syiah Kuala harus tutup, tapi tenang karena masih ada perpustakaan online yang disediakan oleh perpustakaan Syiah Kuala untuk menemani perjalanan literasi kita.
Jumlah Buku
Hingga kini, per Januari 2022 jumlah koleksi yang dimiliki oleh Perpustakaan Universitas Syiah Kuala sebanyak 75.114 judul atau 122.339 eksemplar. Koleksi-koleksi ini hadir dalam berbagai macam jenis, seperti buku, majalah, tesis, skripsi, journal, dan lain-lain. Tidak hanya itu, perpustakaan Syiah Kuala juga sudah berlangganan eBook dan eJournal pada penerbit nasioanal maupun internasional.
Fasilitas
Prasarana dan sarana yang disediakan oleh perpustakkan Syiah Kuala juga sangat lengkap, seperti fasilitas foto copy yang digunakan untuk mengfoto copy beberapa lembar sumber referensi dan lain sebagainya, lalu terdapat ruang baca yang dipisahkan antara laki-laki dan perempuan keren ya, terdapat digital corner juga untuk pengaduan masalah dan arsip digital, ruang seminar, lalu ada disediakan air minum gratis, loker sebagai tempat penyimpanan barang, ada juga loh Korean Corner hasil kerjasama perpustakaan Syiah Kuala dengan kedutaan Korea, selain itu ada Library Coffe yang menyediakan berbagai macam kopi untuk pemustaka. Beberapa fasilitas lain yang terdapat di perpustakaan Syiah kuala ialah terdapat teater mini atau bioskop mini yang merupakan hasil kerja sama UPT. Bahasa dan UPT. Perpustakaan.
Dengan banyaknya jumlah buku yang juga disediakan, perpustakkan Syiah Kuala juga menghadirkan perpustakaan digital berbasis portal aplikasi yang disebut sebagai “UILIS”. Aplikasi ini menyediakan akses konten-konten edukasi, eBook, lalu juga ada skripsi dan karya ilmiah lainnya yang semuanya dapat dipeoleh hanya melalui genggaman saja. Keren banget kan, jadi buat kita yang memang tidak punya waktu untuk ke perpustakaan boleh banget unduh aplikasi ini dan akses sepuasnya
Berbagai macam Kegiatan positif
Tidak hanya menyediakan buku-buku untuk mengasah minat baca genrasi milenial, UPT. Perpustakaan Unsyiah juga mengadakan berbagai kegiata untuk mengasah keterampilan minat baca dan literasi , seperti Lomba blog USK Library Fiesta 2022 yang dapat diikuti oleh siapapun, Lomba baca puisi, ada juga acara Relax and easy, serta berkesempatan untuk menjadi volunteer di perpustakaan Syiah Kuala, dan juga selaluruh mahasiswa USK memiliki kesempatan untuk menjadi Duta Baca guna menyebarkan luaskan dan mengajak mahasiswa lain untuk mencintai dunia literasi. Semua kegitan ini pun sangat antusias diikuti oleh banyak orang, tidak hanya seru tetapi juga bisa mengembangkan keterampilan literasi kita
Prestasi
Fasilitas yang memadai ternyata tidak cukup untuk membuat UPT. Perpustakaan USK untuk terus berkembang. Terbuktik dengan segudang pretasi yang telah dicapainya, seperti Akreditasi "A" dari Perpustakaan Nasional, Certificate ISO 9001:2015, Certificate ISO/IEC 27001:2013, Certificate ISO 20000-1:2018 dan Perpustakaan Unsyiah Juga Menerima Penghargaan SNI Award 2019 peringkat "PERUNGGU" dari Badan Standarisasi Nasional (BSN). Menjadikan perppustakaan USK merupakan salah satu perpustakaan unggul di pulau Sumatera
Dengan segala kelengkapan fasilitas yang mengikuti perkembangan zaman, UPT. Perpustaakan Syiah Kuala merupakan perpustakaan yang sangat diminati oleh generasi milenial. Diharapakan dengan begitu minat baca di Indonesia bisa meningkat. Sehingga fungsi perpustakaan sendiri yang bersifat edukatif, informatif, rekreatif, dan riset atau penelitian dapat terimplementasi dengan baik. Bahkan apabila dapat dikembangkan lagi, fungsi perpustakaan secara khusus dapat digunakan sebagai pusat kebudayaan bangsa, pusat kegiatan sosial, dan pusat informasi.